Tips menjadi Kaya ala Gue: Awas Clickbait!

 

Perkenalkan, namaku Daniel Hendra. Seperti yang sudah tertulis pada judul, memang benar sih artikel ini clickbait. Saya nggak akan memberikan tips-tips supaya kalian bisa kaya. It’s ok jika kalian ingin menutup artikel ini sekarang. Tapi sebelumnya, saya minta kalian baca kutipan kalimat di bawah ini.

“Saya adalah orang yang tertipu dengan ‘embel-embel’ ingin kaya dengan cara instan. Keserakahan malah membuat saya rugi 5jt rupiah di pasar Forex.”

Terimakasih untuk yang bersedia lanjut baca, saya peringatkan kalau isi cerita ini adalah curhatan saya.

Bagi kalian yang belum tahu apa itu Forex, saya akan coba jelaskan sedikit. Forex itu singkatan dari “foreign exchange”. Contoh gampangnya kalian punya duit dollar, terus kalian tukar ke duit Euro, yang sebenarnya motivasinya itu buat dapat suatu keuntungan. FYI, Forex sistematikanya full online, jadi kalian nggak pegang uangnya langsung. Hanya dengan smartphone, kalian sudah bisa menjalankannya.

Ok lanjut! Di sini, saya nggak berusaha untuk menyalahkan tentang dunia Forex, karena kerugian ini adalah murni kebodohan saya pribadi. Memang menurut survey hanya 10% yang bisa sukses si dunia Forex. Dan mungkin, bagi sebagian orang angka 5jt rupiah itu kecil. Karena, teman saya sendiri pun pernah rugi 150jt rupiah. Bahkan, Kevin Aprillio (musisi) juga pernah rugi hingga 17 milyar rupiah (Wirawan, 2019).  Gimana, kalian mau coba main? wkwk.

Saya sudah terjun di dunia Forex sekitar 1 tahun sih, dan sebenarnya dari total kerugian 5 juta itu terbagi jadi 2 periode ruginya. Yang pertama, waktu 3 bulan awal sekitar 2,5jt. Lalu, sempat rehat sejenak dan lanjut main lagi sekitar 1 bulan sebelum social distancing COVID-19.

Ini gambar kerugianku waktu Covid kemarin

Screenshot_2020-04-12-12-46-28-56

Hehe, intinya sekitar 2jt an lah. Dan setelah saya screenshot yang ini, masih ada rugi lagi sekitar 500rb.

“lu nggak stress nil karena rugi sampe segitu?”

Ya sebetulnya stress parah sih. Buat wawasan aja, main beginian itu sebetulnya bikin kecanduan juga, jadi sama kayak kamu ngerokok, susah kan buat berhentinya (?), sampe tiba di mana kamu sakit paru-paru baru bisa tobat tuh.

Sebenarnya, harapan saya yang seorang mahasiswa ini juga nggak terlalu ‘muluk-muluk’ jika punya penghasilan dari main beginian, saya cuma pengen beli midi controller sama perekam suara/soundcard doang. Dan kebetulan, duit bulanan saya yang seorang mahasiswa ini juga nggak akan cukup buat beli itu semua. saya suka musik, dan saya bahagia kalau bisa bikin karya-karya musik. Eh tapi, malah kejebak rugi.

Nih, aku ceritain sedikit tentang duit rugi itu. Jadi, aku sempat jadi guru les anak SD selama 2 bulan, dan sekarang udah resign. Jadi, sebetulnya duit yang hilang itu bayaranku selama jadi guru hehe…

1545228235

Saya curhat dikit ya tentang susahnya jadi guru les *laugh*. Saya sebetulnya orang yang introvert, kalau kata Satu Persen di Youtubenya yang ini, arti introvert adalah “orang yang mendapat energi dari aktivitas dia saat sendiri” Betapa nggak kompetennya seorang introvert (aku) dalam ngajar, dan ngajarnya itu anak SD lagi, pasti harus ceria kan (?). Ditambah lagi, setiap aku berangkat buat ngelesin, pasti hujan turun. Kalau bisa aku kalkulasi nih ya, sekitar 80% lah presentase turun hujannya.

Oh iya, ngomong-ngomong soal Forex nih. Sebetulnya aku mau ngelanjutin trading lagi, karena bagiku merupakan suatu hal yang menantang, tapi! Ada video di Youtube yang dibuat oleh channel SanUcay mengatakan,

“Iya, MUI memang mengatakan kalau forex itu halal. Tapi, bagi gue ada suatu hal yang membuat Forex bisa dikatakan haram, yaitu teori permintaan dan penawaran yang bisa merugikan orang lain”

Jadi, karena saya kuliah di jurusan manajemen, saya cukup paham tentang permintaan dan penawaran. Saya akan beri ilustrasi yang cukup mudah, saat kamu jualan somay dan somay itu laku keras karena enak misalnya. Pasti kamu berniat untuk menaikkan harja jualanmu kan? Nah di Forex juga gitu, harga berubah karena hal-hal seperti yang saya contohkan. Saat kamu beli salah satu mata uang, kamu secara nggak sadar akan mempengaruhi harga mata uang itu.

*maaf kalau penjelasannya nggak saya bikin terlalu teoretis, untuk selengkapnya kalian bisa browsing mengenai forex secara lengkap.

“lalu apa haramnya nil?”

Saat kamu untung dan kamu senang, ada orang lain yang rugi dan sedih pada saat yang sama. Secara nggak langsung seperti teori permintaan dan penawaran tadi, kamu juga ikut andil dalam membuat orang tersebut rugi. Dan kamu nggak tahu kan uang ruginya itu uang apa? Bisa jadi uang buat makan keluarganya, buat beli susu anaknya atau yang lain. Oleh karena itu, saya memutuskan buat nggak main Forex lagi.

Ada hikmah yang bisa saya ambil dari cerita yang ngalor-ngidul ini, yaitu

“Kekayaan/harta nggak bisa didapat dengan cara instan, kamu harus berusaha! Entah buka bisnis, kerja di pabrik, atau buka jasa kursus. Selain itu, jangan melakukan sesuatu yang sebenarnya membuat orang rugi. Dan jika kamu kaya, nggak akan bisa menjamin untuk membuat diri kamu bahagia”

Bahagia menurut Daniel adalah ketika hidup berguna bagi orang lain dan tidak merugikan. Ada suatu tips untuk membuat diri kamu bahagia, saya dapat dari Satu Persen, yaitu Stoicism –> tidak mengekspektasikan suatu hal terlalu tinggi, yang jika kenyataannya tidak sesuai ekpektasi malah membuat kamu kecewa.

marcus

Selain itu, saya juga suka membaca blog dari CEO Founder Satu Persen yaitu bang Evan, di dalam blognya membahas tentang konsep hidup minimalism, yang dijamin akan membuat kita bahagia, yaitu membuang barang-barang/entitas yang tidak berguna dan fokus pada hal-hal yang sesuai tujuan. Untuk selengkapnya bisa kalian baca di sini. (Khainur Rahim, 2019)

Satu lagi, prinsip untuk membuat kita menjadi orang yang bahagia adalah BERSYUKUR.

“When you love what you have, you have everything you need”

#SatuPersenBlogCompetition #BahagiadenganCarakuSendiri #SatuPersen

 

Referensi

Wirawan, A. (2019). Berinvestasi di Forex Setelah Dengar Curhat Kevin Aprilio Bikin Ngeri?. Retrieved 24 April 2020, from https://www.kompasiana.com/adica.wirawan/5d0c40eb097f366a2b6e28c2/ngeri-berinvestasi-di-forex-setelah-dengar-curhat-kevin-aprilio?page=all

Khainur Rahim, I. (2019). Panduan Lengkap Memulai Gaya Hidup Minimalis (dalam sebulan). Retrieved 24 April 2020, from https://www.ifandikhainurrahim.com/2019/03/panduan-gaya-hidup-minimalis.html

 

Salam dari Salam-Salam Ganesha yang Belum Tersampaikan

(Tulisan ini ditulis waktu aku mengikuti lomba blog zenius, jadi maaf kalo pake lo gue hehe.)

(nb: ada banyak yg disunting pada blog ini, guna membuat pembaca merasa nyaman (khususnya kata “gue” yang berlebih sehingga dikurangi) tapi tidak semuanya, supaya tidak menghilangkan ciri khas dari tulisan yg sudah saya buat ini) enjoy. )

Oke, ini pertama kalinya gue nulis. Jadi maaf kalo agak berantakan. Gue akan berbagi cerita tentang masa-masa gue di SMA, yang agak nyeleneh sih dari kebanyakan murid lain.

UI-ITB-UGM

Sebelum lo lanjut baca, gue tekankan bahwa ini bukan cerita keren, si penulis bukanlah orang yang berhasil nembus UI, ITB, dan UGM seperti cerita-cerita sukses lainnya. Tapi tujuannya nulis di sini adalah pure curhat tentang ngapain aja selama di sekolah SMA, nyesel? iya banget.

Empat tahun lalu gue adalah siswa yang nggak nakal, penurut sama guru, bahkan sampai jadi anak emasnya. Juga sering ikut olim fisika, walaupun mentok cuma juara harapan 2 sih, nilai UN pas SMP ya tergolong bagus sih dibanding teman-teman yang lain. ITU WAKTU SMP!

Sampai akhirnya, mulailah ngurus-ngurus buat daftar SMA. FYI, penulis orangnya agak sombong dulu, gamau daftar di sekolah yang ecek-ecek. Pernah juga naik bus ke Kediri buat daftar SMA, padahal jaraknya 99 km dari rumah, itupun berangkatnya ga bilang ortu. Dan akhirnya ketahuan juga, lalu kami berdiplomasi dan memutuskan untuk nyekolahin di SMA yang jaraknya 17 km dari rumah.

Ok, tes berjalan lancar dan hasilnya peringkat 40 dari semua pendaftar bray, gilasih padahal yg ndaftar sekitar 800 an loh. dengan angkuhnya gue merasa senang, padahal itu masih permulaan bray hehe…  sampai suatu waktu di mana hasil pengumuman pembagian kelas ditempel. “Anjir!!!” itulah yang terucap di mulut saat lihat nama ini tertulis di kelas 10 IPS 1.

“Ini ada kesalahan mungkin, ga mungkin lah gue di kelas IPS, orang gue pinter, anak olim fisika juga”

Angkuh banget kan si penulis tiga tahun lalu? Akhirnya gue memberanikan diri untuk protes ke wakasek, ga sendiri sih hehe… ada sekitar 60 an murid juga yang mengajukan buat pindah ke IPA, dari semua yang mengajukan ya tentu ga semua disetujui.

“GUE DITOLAK”

Ya benar, gue ditolak dengan alasan IQ yang rendah, kenapa yang dipertimbangin itu cuma IQ gituloh? padahal kan nilai matem sama IPA juga tinggi waktu tes masuk SMA kemarin. Sedikit kecewa sih dengan sistem penilaiannya. Pak wakasek udah nasehatin ngalor-ngidul supaya ga nekat pindah dan menerima apa adanya aja. Lo bayangin betapa sedihnya si penulis waktu itu, sering ngelamun anjay (maaf, dulu emang alay) dengan posisi lampu di kamar gue matiin.

Ada hal aneh nih, besoknya juga ada anak yang senasib, tapi tiba-tiba pindah kelas ke IPA, apalagi kalo nggak karena nyogok(?), skip deh…

Hari pertama jam pembelajaran efektif ya seperti biasa, masih belum ada pelajaran, para guru masih sibuk nyemangatin anak kelas kami yang masih belum bisa move on dari IPA. Gue sempet tanya sama pak guru “Pak, kalau IPS bias kerja di BMKG nggak?”, lo tau beliau jawab apa? hehe… jawabannya gini.

“Bisa nanti kamu masuk kuliah jurusan Antropologi UGM, nanti bisa itu kerja di BMKG.”

Aswww,….. Ngakak nggak? hehe… nggaktau deh si bapak guru itu lagi ngelawak atau gimana, tapi hal itu justru berhasil memacu semangat gue sampai bisa rangking 3 di semester 1 loh. Di awal semester 2 gue baru sadar Antropologi itu apa hehe.. culun banget kan (?), Oleh karena itu gue memutar otak dan mulai ga serius lagi belajar IPS. Saat itu juga gue mulai belajar Saintek SBMPTN.

line_1553247081789

Nih,penulis spoilerin dulu buku selama ngambis 3 tahunan.

Iseng searching materi di Internet, gue nemu web dengan latar kuning, dan gue kepo. coba putar video trialnya, cara ngajarnya asik banget dan saat itu juga gue langsung jatuh cinta sama Zenius. Pengen banget langsung beli Xpedia saat itu, tapi begitu lihat harganya, Asu!! 700 rebu, gue sobat missqueen bro. Akhirnya, mulai jual-jualin deh barang-barang di rumah, yaitu Hp Blackberry, raket badminton, charger hp dll, ayah sama ibu marah-marah waktu itu hehe.. iya emang, gue se sembrono itu, kalo pengen sesuatu ya pengen instan, gamau ditunda-tunda.

Akhirnya uangnya kekumpul juga bro, 700 rebu, kebelilah yang SMA IPA kelas 10. Video yang pertama kali penulis lihat adalah Zenius Learning, Sabda berhasil memrogram otak gue waktu itu, bisa banget bikin gue “ohhh.. gitu ya” “canggih banget sih” #ForThePowerOfOhh #ForTheLoveOfLearning dan makin yakin deh kalo IPS itu sabi banget buat masuk FTTM ITB. Penulis juga sempat beli buku wangsit bekas sih (yg udah gue spoilerin di atas) waktu itu di grup line, dikasih bonus file-file latsol dan quotes buat gue yang sampai saat ini masih terngiang di kepala.

IMG_20190731_230114

FYI, si penjual buku tahun pertama gapyear karena ditolak ITB, tahun kedua nyoba FTTM ITB tapi kelempar di pilihan 2, Teknik Geologi UNDIP.

“Salam dari Salam-Salam Ganesha yang Belum Kesampaian.”

Di kelas, si penulis juga sering Zeniusan dong, pokoknya dipake terus, karena menurut gue sih nagih banget. worth it lah apalagi juga sering dispen kelas karena ada latian paduan suara, ga di kelas ga di tempat latian juga sering Zeniusan sama ngerjain soal wangsit. Selain belajar Saintek juga bisa nyicil sedikit-sedikit buat belajar kalo waktu ada ulangan matpel IPS pake zenius.net.

Ya gitu, akhirnya penulis ketagihan belajar Saintek dan ngelakuin pelajaran IPS sambil nyambi-nyambi, dengan setengah hati lah bahasa gampangnya. Hasilnya, nilai ulangan jeblok njir, Semua matpel rangenya cuma 50-70 an kecuali matematika. Karena gimana lagi ya, waktu pelajaran sosiologi malah ngerjain soal MATIPA, waktu geografi gue ngerjain fisika.

Tapi ada yang aneh nih bray dari ssekolahnya penulis, percaya atau enggak nilai rapot malah naik loh. Gue berhasil mempertahankan rangking 3. padahal ya lo tau sendiri nilai penulis ancur2an, sering dispen, guru dikecewain karena belajar Saintek pas pelajarannya. hehe.. seharusnya kan nilai pengetahuan sama sikap turun (?) hal inilah yang mau dikritik dari sistem sekolah penulis saat ini, gue ngerasa perjuangan waktu SMA cuma di semester 1 aja. Tanda tanya besar kan, ngapain susah-susah belajar anjir kalo nilainya juga pasti naik, mending ngegame, ngedota 2, PUBG.

dota-2-heroes-chibi-wallpaper

Waktu kelas 2 SMA, gue masuk kelas unggulan yang isinya kumpulan anak peringkat 1-5 dari semua kelas IPS. nggak salah masuk sini? kelakuan gue blangsak loh, selama ini sering skip pelajarannya guru-guru loh (?) yang ada malah mencoreng nama baik kelas unggulan kalo gini caranya hehe.. Kelas 2 gue ya tetep gitu, sering dispen, lomba padus si penulis malah banyak banget waktu kelas 2, super gamau dengerin pelajarannya guru-guru (sering sembunyi di kolong meja buat ngerjain soal-soal sbmptn gitu). Di kelas, gue dijuluki tim santuy sih, ya karena temen2 pada pinter-pinter semua, kalo ada ulangan belajarnya serius, gue malah leha-leha hehe… nilai ya gitu jeblok terus jeblok terus, ternyata beneran mencoreng nama baik kelas unggulan sih.

Eh iya, waktu itu lagi zaman-zamannya ada UN ya, si penulis pilih peminatan Geografi, asal-asalan sih milihnya, eh ga asal-asalan juga sih (Gue pilih yg gurunya santuy, gue ga ndengerin juga nggak dimarahin) akkakaka…. Sampe pas H-1 Minggu baru nyesel, ngapain dulu ga ngedengerin, Akhirnya gue kebut materi geonya pake Zenius, lo tau akhirnya nilai geografi gue berapa? 96 coyyy… dahsyat bukan si Zen. nih kalo lo ga percaya, maaf kalo overall jelek…

img_20190801_005745.jpg

 

Oke skip untuk bacotan yang panjang lebar ini, kita lompat ke saat-saat bimbang milih jurusan SNMPTN. ya karena lolos 40% kuota. Secara sih, kan penulis masuk kelas unggulan (laugh), jadi ya berhak buat ikut SNMPTN dong. Gue IPS, gabisa milih teknik dong, ya akhirnya milih Manajemen Bisnis ITS, cuma itu doang dan slot lain nggak diisi. Penulis milih jurusan dan kampus itu karena masih di lingkungan teknik, dan gue suka. paling nggak kecipratan ilmu tekniknya sedikit-sedikit.

Waktu itu daftarnya awal, langsung simpan permanen gapake mikir, toh aku kan berharap besarnya di sbmptn, kalaupun snmptn keterima ya Alhamdulillah Puji Tuhan. Dan ternyata, bener nih ga sia-sia simpan permanen di awal. kalo di akhir “penutupan pendaftaran” websitenya malah ngadat, emang jelek sih websitenya. asuu … “eh aku belum simpan permanen nih,belum upload sertif juga” pacar (yg sekarang mantan)  gue bilang gitu. Ya Allah mau gimana lagi, penulis juga ikut begadang demi nunggu servernya sepi, Dan akhirnyaaa bisa juga….  bayangin udah 3 harian ga tidur dengan nyenyak. Teruntuk pak menteri, tolong benerin dong websitenya supaya taun depan ga gitu lagi.

Akhirnya yang ditunggu datang juga, waktu itu kemenristek bilangnya mau ngumumin sore, tapi pagi-pagi itu iseng- iseng buka. muncul beginian ..

IMG_20190801_010023

 

ini error kali ya (?) teman sekelas gue juga banyak yang dapet ijo-ijo kayak gitu, setiap kali tanya “eh lo dapet ijo apa merah?” selalu jawabannya ijo. Ya mau gimana lagi, sabar ajadeh ntar nunggu agak sorean buka lagi. Kebetulan waktu itu bukanya di Telkom sih, sama pacar (YG SEKARANG MANTAN).

“Anjirrr….”

Beneran dapet! pacar (MANTAN) gue juga dapet waktu itu. jadi ga sia-sia sih bantuin dia sampe 3 hari kurang tidur.

Di situlah penulis tiba-tiba berpikir buat lupain tujuan utama gue buat masuk ITB, gue merasa bersyukur, dan menyadari bahwa yang penulis lakukan selama ini salah. Gue ngerasa gadapet feelnya, selama ini ngambis cuma ngerasa mengejar sesuatu hal yang sia-sia, karena cuma pengen tenar, dipandang keren sama orang aja (soalnya definisi keren yaitu anak teknik, menurut penulis sih) . Ada quotes …

“When you love what you have, you have everything you need.”

Percayalah! melakukan sesuatu hal dengan setengah hati tuh gaenak, capek. Udah terlalu banyak guru yang gue sakitin, untuk menebus kesalahan gue, gue mau fokus belajar di tempat gue kuliah sekarang.

Karena menurut penulis, kebahagiaan itu nggak ditentukan soal di mana kamu kuliah dan jurusan apa yang kamu ambil, tapi seberapa besar kamu menaruh perhatian pada pembelajaran itu sendiri. Kalo banyak orang yang bilang “ah gue saljur” itu bullshit… Menurut gue itu karena diri lo aja yang cuma menerima pelajarannya dengan setengah hati.

Thank You Zenius.

#ForTheLoveOfLearning

Sorry tulisan gue banyak bacotnya. cheers!